Rabu, 20 April 2016

KALAM DAN PEMBAGIANNYA




KALAM DAN PEMBAGIANNYA

(فَأَمَّا أَقْسَامُ الْكَلَامُ فَأقَلُّ مَا يَتَرَكَّبُ مِنْهُ الْكَلَامُ اسْمَانِ نَحْوُ زَيْدٌ قَائِمٌ (أَوْ اسْمٌ وَفِعْلٌ) نَحْوُ قَامَ زَيْدٌ (أَوْ فِعْلٌ وَحَرْفٌ) نَحْوُ مَا قَامَ، أَثْبَتَهُ بَعْضُهُمْ، وَلَمْ يَعُدَّ الضَّمِيْرَ فِيْ قَامَ الرَّاجِعَ إِلَى زَيْدٌ مَثَلاً لِعَدَمِ ظُهُوْرِهِ، وَالْجُمْهُوْرُ

Beberapa pembagian kalam. Batas minimal susunan kalam adakalanya dua isim, contoh زَيْدٌ قَائِمٌ atau isim dan fiil, contoh قَامَ زَيْدٌ atau fiil dan huruf, contoh  مَا قَامَ ditetapkan oleh sebagian ulama dan mereka tidak menghitung dhamir dalam lafadz قَامَ yang kembali semisal pada Zaid, karena  dhamir  tersebut  tidak  nampak.

عَلَى عَدِّهِ كَلِمَةً (أَوْ اسْمٌ وَحَرْفٌ) وَذَلِكَ فِيْ النِّدَاءِ، نَحْوُ يَا زَيْدُ وَإِنْ كَانَ الْمَعْنَى أَدْعُوْ أَوْ أُنَادِيْ زَيْداً

Menurut jumhur, dhamir tersebut dihitung satu kalimat. Atau isim dan huruf, yang terdapat dalam nida’, contoh يَا زَيْدُ, walaupun maknanya adalah “saya menyeru atau memanggil Zaid”

Penjelasan :
Batas minimal susunan sebuah kalam adalah dua kalimat, yakni;
1.        Terdiri dari dua isim, dapat dipilah dalam empat bentuk.

No
Susunan
Contoh
1.               
Mubtada dan khabar
زَيْدٌ قَائِمُ (Zaid yang berdiri)
2.               
Mubtadak dan fail yang menempati kedudukan khabar
أَقَائِمٌ زَيْدٌ (Apakah Zaid berdiri)
3.               
Mubtadak dan naibul fail yang menempati kedudukan khabar
أَمَضْرُوْبٌ زَيْدَانِ (Apakah Zaid dipukul)
4.               
Isim fiil dan fail
هَيْهَاتَ العَتِيْقُ (Jauh sekali lembah Aqiq)

2.        Isim dan fiil contohقَامَ زَيْدٌ  (Zaid berdiri)
3.        Fiil dan huruf contoh ماَ قَامَ  (Zaid tidak berdiri)
4.        Isim dan huruf contoh يَا زَيْدٌ  (Wahai Zaid)

Pertanyaan :
Mengapa dalam lafadz مَا قَامَ, dhamir dikatakan sebagai sesuatu yang tidak nampak?
Jawab :
Karena dhamir merupakan gambaran akal yang keberadaannya tidak bisa dinyatakan dan tidak wujud dalam kenyataan, sebab tidak berbentuk lafadz dan juga tidak ada lafadz yang dibuat untuknya
Referensi :
وَإِنَّمَا لَمْ يُعَدَّ لِعَدَمِ ظُهُوْرِهِ لِأَنَّهُ صُوْرَةٌ عَقْلِيَّةٌ لَا تَحَقُّقَ لَهُ وَلَا وُجُوْدَ لَهُ فِيْ الْخَارِجِ إِذْ لَيْسَ بِلَفْظٍ وَلَا وُضِعَ لَهُ لَفْظٌ (اَلنَّفَحَاتُ صـ 37)
“Dan sesungguhnya tidak dihitungnya dhamir karena tidak nampak, karena dhamir merupakan gambaran akal yang keberadaannya tidak bisa dinyatakan dan tidak wujud dalam kenyataan, sebab tidak berbentuk lafadz dan juga tidak ada lafadz yang dibuat untuknya”
(وَالْكَلَامُ يَنْقَسِمُ إِلَى أَمْرٍ وَنَهْيٍ) نَحْوُ قُمْ وَلَا تَقْعُدْ (وَخَبَرٍ) نَحْوُ جَاءَ زَيْدٌ (وَاسْتِخْبَارٍ) وَهُوَ الْاِسْتِفْهَامُ نَحْوُ هَلْ قَامَ زَيْدٌ؟ فَيُقَالُ: نَعَمْ أَوْ لَا
(وَيَنْقَسِمُ أَيْضاً إِلَى تَمَنٍّ) نَحْوُ لَيْتَ الشَّبَابَ يَعُوْدُ يَوْماً (وَعَرْضٍ) نَحْوُ أَلَا تَنْزِلُ عِنْدَنَا (وَقَسَمٍ) نَحْوُ وَاللهِ لَأَفْعَلَنَّ كَذَا

Kalam terbagi menjadi,
1.       Amr, contoh قُمْ
2.       Nahi, contoh لَا تَقْعُدْ
3.       Khabar, contoh جَاءَ زَيْدٌ
4.       Istikhbar, yakni istifham, contoh:
هَلْ قَامَ زَيْدٌ؟ maka dijawab ya atau tidak.

Kalam terbagi lagi menjadi,
1.       Tamanni, contoh لَيْتَ الشَّبَابَ يَعُوْدُ يَوْمًا
2.       ‘Ardhi, contoh أَلَا تَنْزِلْ عِنْدَنَا
3.       Qasam, contoh وَاللهِ لَأَفْعَلَنَّ كَذَا

Penjelasan :
Dari sisi kandungannya, kalam terbagi beberapa macam :
1.        Amr, yaitu kalam yang mengandung arti menuntut dilakukannya pekerjaan, contoh قُمْ (berdirilah!).
2.       Nahi, yaitu kalam yang yang mengandung arti menuntut ditinggalkannya pekerjaan, contoh لَا تَقْعُدْ (jangan duduk!).
3.       Khabar (berita), yaitu kalam yang mengandung arti sebuah berita yang mungkin benar dan bohong secara dzatiyah, contoh جَاءَ زَيْدٌ (Zaid telah datang).
4.       Istikhbar (istifham), yaitu kalam yang mengandung arti tuntutan untuk menjelaskan sesuatu, contoh: هَلْ قَامَ زَيْدٌ؟ (Apakah Zaid berdiri?) maka dijawab ya atau tidak.
5.       Tamanni, yaitu kalam yang mengandung arti menginginkan sesuatu yang tidak mungkin didapatkan, contoh: لَيْتَ الشَّبَابَ يَعُوْدُ يَوْمًا (Andai masa muda kembali suatu hari), atau sulit didapatkan, contoh orang miskin berkata : لَيْتَ لِيْ قِنْطَارًا مِنْ ذَهَبٍ فَأَحُجَّ مِنْهُ (Andai aku punya segudang emas, maka akan aku gunakan berangkat haji).
6.       ‘Ardhi, yaitu kalam yang dimulai dengan lafadz أَلَا dan menunjukan arti permintaan halus dan santai, contoh أَلَا تَنْزِلْ عِنْدَنَا (mari singgah ke tempatku).
7.       Tahdhidh, yaitu kalam yang dimulai dengan lafadz هَلَا dan menunjukan arti permintaan dengan keras dan menghardik, contoh : هَلَا أَكْرَمْتَ زَيْدًا (Ayo muliakanlah Zaid). Kalam ini tidak disebutkan pengarang karena hakikatnya sama dengan ‘ardhi, yakni meminta sesuatu yang disukai.[1][13]
8.       Qasam, yaitu kalam yang mengandung arti sumpah, contoh:
وَاللهِ لَأَفْعَلَنَّ كَذَا (demi Allah pasti aku akan melakukan demikian).

(وَمِنْ وَجْهٍ آخَرَ يَنْقَسِمُ إِلَى حَقِيقَةٍ وَمَجَازٍ فَالْحَقِيْقَةُ مَا بَقِيَ فِيْ الْاسْتِعَمَالِ عَلَى مَوْضُوْعِهِ وَقِيلَ مَا اسْتُعْمِلَ فِيْمَا اصْطُلِحَ عَلَيْهِ مِنْ المُخَاطَبَةِ) وَإِنْ لَمْ يَبْقَ عَلَى مَوْضُوْعِهِ كَالصَّلَاةِ فِي الْهَيْئَةِ الْمَخْصُوْصَةِ، فَإِنَّهُ لَمْ يَبْقَ عَلَى مَوْضُوْعِهِ اللُّغَوِيِّ وَهُوَ الدُّعَاءُ بِخَيْرٍ، وَالدَّابَّةِ لِذَاتِ الْأَرْبَعِ كَالْحِمَارِ فَإِنَّهُ لَمْ يَبْقَ عَلَى مَوْضُوْعِهِ وَهُوَ كُلُّ مَا يَدُبُّ عَلَى الْأَرْضِ.

Dari sisi lain kalam terbagi menjadi hakikat dan majaz. Hakikat adalah lafadz yang dalam penggunaannya sesuai makna asal lughat. Menurut pendapat lain, hakikat ialah lafadz yang digunakan pada arti yang diistilahkan perbincangan[2][14], walaupun tidak bergeser dari arti asal (arti lughat). Seperti lafadz shalat, digunakan untuk (hakikat syar’i) berupa ibadah dengan tata cara tertentu. Penggunaan ini sudah tidak menetapi arti asal lughat, yakni berdoa dengan kebaikan.
Contoh lain kata ad-dabbah, digunakan untuk (hakikat urfi) berupa binatang berkaki empat. Penggunaan ini sudah tidak menetapi makna asal lughat, yakni setiap binatang melata di atas bumi.

Penjelasan :
Mengenai definisi hakikat, terdapat dua pendapat.
1.        Pendapat pertama, hakikat adalah lafadz yang digunakan sesuai makna asal lughatnya, contoh;
§  Lafadzأَسَدٌ  digunakan untuk makna hewan buas
§  Lafadzالصَّلَاة  digunakan untuk makna berdoa kebaikan
§  Lafadzالدَّابَة  digunakan untuk makna setiap binatang melata di muka bumi
2.        Pendapat kedua, hakikat adalah lafadz yang digunakan dalam makna yang dijadikan istilah perbincangan (istilah at-takhathub), meskipun telah keluar dari makna lughatnya. Contoh;
§  Lafadzالصَّلَاة  digunakan untuk makna ibadah dengan tatacara tertentu oleh kelompok fuqaha.
§  Lafadzالدَّابَة  digunakan untuk makna hewan berkaki empat  seperti kambing kelompok urf (manusia umum).

Maskipun kedua makna di atas telah keluar dari makna lughatnya.

(وَالْمَجَازُ مَا تُجُوِّزَ) أَيْ تُعُدِّيَ بِهِ (عَنْ مَوْضُوْعِهِ) وَهَذَا عَلَى المَعْنَى الْأَوَّلِ للْحَقِيْقَةِ، وَعَلَى الثَّانِيْ : هُوَ مَا اسْتُعْمِلَ فِيْ غَيْرِ مَا اُصْطُلِحَ عَلَيْهِ مِنَ الْمُخَاطِبَةِ

Majaz adalah suatu lafadz yang keluar dari makna asalnya. Pengertian ini apabila berdasarkan makna hakikat yang pertama.
Jika memandang arti hakikat yang kedua, maka definisi majaz adalah suatu lafadz yang digunakan di selain makna yang dibuat istilah oleh mukhathibin.

Penjelasan :
Dua pendapat mengenai pengertian hakikat, mempengaruhi difinisi dari majaz. Berpijak dari pendapat pertama, majaz ialah,
مَا تُجُوِّزَ عَنْ مَوْضُوْعِهِ
Lafadz yang digunakan pada selain arti lughatnya”

Contoh, lafadzالصَّلَاة  dianggap majaz, apabila ahli lughat menggunakannya untuk makna ibadah dengan tatacara tertentu, karena makna asal lughatnya adalah berdoa.
Berpijak dari pendapat kedua, majaz ialah,
َ مَا اسْتُعْمِلَ فِيْ غَيْرِ مَا اُصْطُلِحَ عَلَيْهِ مِنَ الْمُخَاطِبَةِ
Lafadz yang digunakan untuk menunjukkan arti selain makna yang dibuat istilah dari perbincangan”

Contoh;
§  Lafadzالصَّلَاة  dianggap majaz apabila golongan ahli fiqh menggunakannya untuk makna doa. Karena makna asal yang dibuat oleh mereka adalah ibadah dengan tatacara tertentu.
§  Lafadzالدَّابَة  dianggap majaz apabila golongan ahli urfi menggunakannya untuk makna binatang yang melata di muka bumi. Karena makna asal yang dibuat oleh mereka adalah hewan berkaki empat.
Dalam majaz diharuskan memenuhi dua persyaratan, adanya ‘alaqah dan qarinah. ‘Alaqah adalah sesuatu yang menghubungkan antara makna pertama dan makna kedua yang digunakan, sehingga dengan perantara ini hati berpindah menuju makna kedua. Dan qarinah adalah sesuatu yang berbarengan yang menunjukkan pada makna yang dimaksud dan memastikan bukan makna pertama yang dikehendaki. Persyaratan adanya qarinah ini menurut ulama yang melarang penggunaan makna hakikat dan majaz secara bersamaan [3][15].
Dari pengertian majaz di atas, disimpulkan bahwa dalam majaz disyaratkan terlebih dahulu harus ada wadl’u (penetapan lafadz untuk sebuah makna) atas makna pertama, namun tidak disyaratkan terlebih dahulu ada isti’mal (penggunaan makna).

Catatan
Menurut pendapat Ashah, ketika sebuah lafadz mashdar digunakan dalam makna aslinya, maka lafadz yang musytaq (tercetak) dari mashdar tersebut sah dibuat majaz, meskipun mashdar tersebut tidak terpakai pada musytaq lahu (perkara yang dibuatkan lafadz musytaq). Contoh, lafadzالرَّحْمَنُ  tercetak dari mashdar رَحْمَةٌ, dan mashdar ini terpakai dalam makna aslinya, yakni kelembutan hati. Namun makna ini tidak sah dipakai dalam musytaq lahu (perkara yang dibuatkan lafadz musytaq), yaitu Allah swt, karena muhal (tidak diterima akal). Sehingga pembuatan majaz dalam  الرَّحْمَنُ dianggap sudah sah [4][16].

Pertanyaan :
Apa faktor dan alasan perpindahan hakikat menuju majaz?
Jawab :
Faktor-faktornya adalah sebagai berikut;
1.        Lafadz dari makna hakikat berat pengucapannya. Contoh lafadz خَنْفِقِيْقٍ yang berarti marabahaya, dipindah menjadi lafadz مَوْتٌ
2.        Kurang enak didengar, misalnya lafadz خِرَاءَةٌ, artinya kotoran yang diganti dengan lafadz غَائِطٌ, arti hakikatnya dataran rendah.
3.        Ketidaktahuan baik dari mutakallim atau mukhathab atas makna hakikat, bukan makna majaznya.
4.        Karena nilai sastra yang terkandung. Contoh, lafadz زَيْدٌ أَسَدٌ (Zaid seperti singa) dalam keberaniannya. Ini memiliki nilai sastra lebih tinggi dibandingkan lafadz  زَيْدٌ شُجَاعٌ
5.        Makna majaz lebih dikenal daripada makna hakikatnya. Dan lain-lain
Referensi :
وَإِنَمَا يُعْدِلُ عَنِ الْحَقِيْقَةِ إِلَى الْمَجَازِ لِثِقَلِ الْحَقِيْقَةِ عَلَى اللِّسَانِ كَالخَنْفِقِيْقِ اِسْمٌ لِلدَاهِيَةِ يُعْدِلُ عَنْهُ اِلَى الْمَوْتِ مَثَلاً أَوْ بَشَاعَتِهَا كَالْخِرَاءَةِ يَعْدِلُ عَنْهَا اِلَى الْغَائِطِ وَحَقِيْقَتُهُ الْمَكَانُ الْمُنْخَفِضُ أَوْ جَهْلِ المتُكَلِّمِ أَوْ الْمُخَاطَبِ بِهَا دُوْنَ الْمَجَازِ أَوْ بَلاَغَتِهِ نَحْوُ زَيْدٌ أُسُدٌ فَاِنَّهُ أَبْلَغُ مِنْ شُجَاعٍ أَوْ شُهْرَتِهِ دُوْنَ الْحَقِيْقَةِ أَوْ غَيْر ذَلِكَ (النَّفَحَاتُ صـ 49)
“Sesungguhnya berpindah dari hakikat menuju majaz, karena lafadz dari makna hakikat berat pengucapannya. Contoh lafadz خَنْفِقِيْقٍ yang berarti marabahaya, dipindah menjadi lafadz مَوْتٌ. Atau kurang enak didengar, misalnya lafadz خِرَاءَةٌ, artinya kotoran yang diganti dengan lafadz غَائِطٌ, arti hakikatnya dataran rendah. Atau ketidaktahuan baik dari mutakallim atau mukhathab atas makna hakikat, bukan makna majaznya. Atau karena nilai sastra yang tinggi. Contoh, lafadz زَيْدٌ أَسَدٌ (Zaid seperti singa) dalam keberaniannya. Bahasa ini memiliki nilai sastra lebih tinggi dibandingkan lafadz  زَيْدٌ شُجَاعٌ. Atau makna majaz lebih dikenal daripada makna hakikatnya. Atau faktor yang lain

(وَالْحَقِيْقَةُ إمَّا لُغَوِيَّةٌ) بِأَنْ وَضَعَهَا أَهْلُ اللُّغَةِ، كَالْأَسَدِ لِلْحَيَوَانِ الْمُفْتَرِسِ.
(وَإمَّا شَرْعِيَّةٌ) بِأَنْ وَضَعَهَا الشَّارِعِ، كَالصَّلَاةِ لِلْعِبَادَةِ الْمَخْصُوْصَةِ.
(وَإمَّا عُرْفِيَّةٌ) بِأَنْ وَضَعَهَا أَهْلُ الْعُرْفِ العَامُّ كَالدَّابَةِ لِذَاتِ الْأَرْبَعِ كَالْحِمَارِ، وَهِيَ لُغَةً لِكُلَّ مَا يَدُبُّ عَلَى الْأَرْضِ،  وَالْخَاصُّ كَالْفَاعِلِ لِلْاِسْمِ

Hakikat adakalanya berbentuk lughawiyyah (bahasa), yakni yang dibuat oleh ahli bahasa. Contoh, lafadz al-asad untuk makna hewan buas.
Dan berbentuk syar’iyyah, yang dibuat oleh pemegang syariat. Contoh, shalat untuk makna ibadah dengan cara tertentu.
Serta berbentuk ‘urfiyyah, yang dibuat oleh ahli urfi umum, contoh lafadz ad-dabbah untuk hewan berkaki empat, seperti himar. Lafadz ini secara lughat bermakna setiap hewan melata di muka bumi. Dan  oleh  ahli  urfi  khash,  seperti

الْمَعْرُوْفِ عِنْدَ النُّحَاةِ.
وَهَذَا التَّقْسِيْمُ مَاشٍ عَلَى التَعْرِيْفِ الثَّانِيْ لِلْحَقِيْقَةِ دُوْنَ الْأَوَّلِ الْقَاصِرِ عَلَى اللُّغَوِيَّةِ

lafadz al-fail, untuk makna isim yang dikenal menurut ahli ilmu nahwu.
Pembagian ini diselaraskan dengan definisi hakikat yang kedua, bukan yang pertama yang hanya terbatas pada hakikat lughawiyah saja.

Penjelasan :
Hakikat terbagi menjadi beberapa macam.
1.        Hakikat lughawi (bahasa), yaitu lafadz yang dibuat dan digunakan oleh ahli lughat untuk menunjukkan makna asal secara bahasa, seperti lafadz as-shalat digunakan untuk makna doa.
2.        Hakikat syar’i (syari’at), yaitu lafadz yang dibuat dan digunakan oleh pembuat syariat untuk menunjukkan makna asal secara syara’, seperti lafadz as-shalat digunakan untuk makna perbuatan dan ucapan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.
3.        Hakikat  urfi (terlaku di tengah manusia), yaitu lafadz yang dibuat dan digunakan oleh ahli urf untuk menunjukkan makna asal urf. Terbagi dua;
a.       Urf ‘ Am, yaitu makna urf yang pencetusnya tidak ditentukan dari satu golongan. Contoh lafadz ad-dabbah yang digunakan untuk menunjukkan makna hewan berkaki empat.
b.      Urf Khash, yaitu makna urf yang pencetusnya dari kelompok tertentu. Contoh lafadz al-fi’lu yang digunakan oleh kelompok ahli nahwu untuk makna lafadz yang dapat menunjukkan makna dengan sendirinya dan disertai zaman.

(وَالْمَجَازُ إِمَّا أَنْ يَكُوْنَ بِزِيَادَةٍ أَوْ نُقْصَانٍ أَوْ نَقْلٍ أَو اسْتِعَارَةٍ)
(فَالْمَجَازُ بِالزِّيَادَةِ مِثْلُ قَوْلِهِ تَعَالَى : لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيءٌ)، فَالْكَافُ زَائِدَةٌ وَإِلَّا فَهِيَ  بِمَعْنَى  مِثْلٍ  فَيَكُوْنُ  لَهُ

Majaz adakalanya berbentuk ziyadah (penambahan), naqs (pengurangan), naql (pemindahan makna) atau isti’arah (meminjam arti kata lain). Contoh majaz ziyadah, firman Allah swt لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ, (tidak ada sesuatupun serupa dengan Dia) huruf kaf di sini adalah tambahan. Karena apabila tidak demikian, maka huruf kaf bermakna  menyerupai,  sehingga  akan

تَعَالَى مِثْلٌ وَهُوَ مُحَالٌ وَالْقَصْدُ بِهَذَا الْكَلَامِ نَفْيُهُ.
(وَالْمَجَازُ بِالنًّقْصَانِ مِثْلُ قَوْلِهِ تَعَالَى : وَاسْئَلِ الْقَرْيَةَ) أَيْ أَهْلَ الْقَرْيَةِ، وَقُرِّبَ صِدْقُ تَعْرِيْفِ الْمَجَازِ عَلَى مَا ذُكِرَ بِأَنَّهُ اُسْتُعْمِلَ نَفْيُ مِثْلِ الْمِثْلِ فِيْ نَفْيِ الْمِثْلِ وَسُؤَالِ الْقَرْيَةِ فِيْ سُؤَالِ أَهْلِهَا.
(وَالْمَجَازُ بِالنَّقْلِ كَاْلغَائِطِ فِيْمَا يَخْرُجُ مِنَ الْإِنْسَانِ)، نُقِلَ إِلَيْهِ عَنْ حَقِيْقَتِهِ وَهِيَ الْمَكَانُ الْمُطْمَئِنُّ تُقْضَى فِيْهِ الْحَاجَةُ بِحَيْثُ لَا يَتَبَادَرُ مِنْهُ عُرْفًا إِلَّا الْخَارِجِ.
(وَالْمَجَازُ بِالْاِسْتِعَارَةِ كَقَوْلِهِ تَعَالَى : جِدَاراً يُرِيْدُ أَنْ يَنْقَضَّ) أَيْ يَسْقُطُ، فَشُبِّهَ مَيْلُهُ إِلَى السُّقُوْطِ بِإِرَادَةِ السُّقُوْطِ الَّتِيْ هِيَ مِنْ صِفَاتِ الْحَيِّ دُوْنَ الْجَمَادِ، وَالْمَجَازُ الْمَبْنِيُّ عَلَى التَّشْبِيْهِ يُسَمَّى اِسْتِعَارَةً

muncul pemahaman, ada perkara yang menyerupai Allah SWT, dimana hal ini adalah muhal (tidak diterima akal). Padahal tujuan dari kalam ini adalah menafikan perkara yang menyerupai Allah SWT. Contoh majaz naqs, firman Allah swt: وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ (dan tanyalah penduduk desa), maksudnya, bertanya pada penduduk desa (أَهْلَ الْقَرْيَةَ).
Keselarasan dengan definisi majaz dari contoh-contoh di atas adalah dengan pendekatan, bahwa penafian mitslil mitsli (padanan sesuatu yang menyerupai Allah swt) digunakan untuk menafikan mitsli (perkara yang menyerupai Allah swt). Dan bahwa pertanyaan pada الْقَرْيَةَ (desa /benda mati) digunakan untuk makna pertanyaan pada أَهْلَ الْقَرْيَةَ (penduduknya /makhluk hidup).
Contoh majaz naql, الْغَائِطُ yang digunakan untuk makna perkara yang keluar dari tubuh manusia, dipindah dari makna hakikatnya, yaitu tempat rendah untuk membuang hajat. Hal ini sekiranya secara ‘urf kata الْغَائِطُ tidak akan cepat ditangkap pemahaman kecuali atas perkara yang keluar dari tubuh manusia.
Contoh majaz isti’arah, firman Allah swt: جِدَارًا يُرِيْدُ أَنْ يَنْقَضَّ (dinding rumah yang hampir roboh), maksud kata يَنْقَضَّ adalah يَسْقُطُ. Miringnya tembok yang akan roboh disamakan dengan menghendaki roboh yang merupakan sifat makhluk hidup bukan benda mati. Majaz yang didasarkan pada penyerupaan ini dinamakan isti’arah.

Penjelasan :
Majaz terbagi menjadi beberapa macam.
1.        Majaz ziyadah (penambahan), yaitu lafadz yang digunakan pada selain makna asalnya karena ‘alaqah (hubungan) berbentuk penambahan kalimat. Penambahan ini tidak memiliki arti, namun ada fungsi tertentu seperti menggukuhkan. Contoh:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيءٌ
“Tiada sesuatu yang menyerupai allah”

Huruf kaf memiliki arti مِثْلٌ, yang apabila difungsikan maknanya maka akan terjadi pemahaman yang muhal (tidak diterima akal). Karena maksud ayat di atas adalah menafikan sesuatu yang menyerupai Allah swt. Sehingga kaf di sini dihukumi ziyadah (tambahan) [5][17].
2.        Majaz nuqshan (pengurangan), yaitu lafadz yang digunakan pada selain makna asalnya karena ‘alaqah (hubungan) berbentuk pengurangan kalimat. Contoh:
وَاسْئَلِ الْقَرْيَةَ
“Bertanyalah pada (penduduk) desa”

Dalam contoh ini ada pengurangan lafadz أَهْلَ (penduduk) dengan qarinah, tidak mungkin bertanya pada desa yang berwujud benda mati[6][18].
3.        Majaz naql (memindah), yaitu pemindahan makna oleh ahli urf ‘am (umum) dari makna lughat menuju makna yang dipakai sebagai istilah oleh manusia umum. Contoh lafadz الغَائِطُ, dipindah dari arti lughat yaitu tanah yang rendah yang digunakan untuk membuang kotoran, menuju arti kotoran yang keluar dari manusia.
4.        Majaz istia’rah, yaitu lafadz yang digunakan pada selain makna asalnya karena ‘alaqah (hubungan) berbentuk keserupaan. Contoh, firman Allah swt:
جِدَاراً يُرِيْدُ أَنْ يَنْقَضّ
“Dinding rumah yang hampir roboh”
Miringnya tembok yang akan roboh disamakan dengan menghendaki roboh yang merupakan sifat makhluk hidup bukan untuk benda mati.

Pertanyaan :
Naql atau manqul dalam kitab lain dimasukkan dalam bagian hakikat, mengapa pengarang memasukkannya dalam bagian majaz?
Jawab :
Karena maksud pengarang di sini adalah pengertian naql secara lughat, yakni pengalihan secara mutlak dari makna satu ke makna lainnya. Dan Beliau tidak menghendaki naql secara istilah, yakni pemindahan dari makna pertama ke makna kedua disertai adanya kesesuaian (munasabah) dan dengan meninggalkan makna pertama.
Sedangkan naql atau manqul yang termasuk bagian hakikat adalah naql yang menggunakan definisi secara istilah.
Referensi :
فَإِنْ قُلْتَ أَنَّ كَوْنَهُ مَنْقُوْلاً يُناَفِيْ كَوْنَهُ مَجَازًا لِأَنَّ المَنْقُوْلَ مِنْ أَقْسَامِ الحَقِيْقَةِ كَمَا تَقَرَّرَ فيِ مَحَلِهِ وَالمُصَنِّفُ قَدْ جَعَلَهَا مِنْ أَقْسَامِ المَجَازِ أُجِيْبُ بِأَنَّهُ لاَ مُناَفاَةَ لِأَنَّهُ أَرَادَ النَّقْلَ بِالمَعْنىَ اللُّغَوِيِّ وَهُوَ مُطْلَقُ المُجَاوَزَةِ بِاللَّفْظِ عَنْ مَعْنىً إِلىَ مَعْنىً آخَرَ لاَ بِالمَعْنىَ الإِصْطِلاَحِيِّ وَهُوَ مَا يَكُوْنُ لِمُنَاسَبَةٍ مَعَ هَجْرِ المَعْنىَ الأَوَّلِ وَالمَنْقُوْلُ الَّذِيْ هُوَ مِنْ أَقْسَامِ الحَقِيْقَةِ هُوَ المَنْقُوْلُ بِالمَعْنىَ الإِصْطِلاَحِيِّ دُوْنَ مَعْنىَ اللُّغَوِيِّ (اَلنَّفَحَاتُ صـ 45)
“Jika kamu mengatakan bahwa adanya status manqul menafikan keberadaannya sebagai majaz, karena manqul termasuk bagian hakikat seperti yang dijelaskan pada pembahasannya, dan pengarang menjadikannya termasuk bagian majaz. Maka aku menjawab, bahwa tidak ada pertentangan. karena maksud pengarang di sini adalah pengertian naql secara lughat, yakni pengalihan secara mutlak dari makna satu ke makna lainnya, tidak menghendaki naql secara istilah, yakni pemindahan dari makna pertama ke makna kedua disertai adanya kesesuaian (munasabah) dan dengan meninggalkan makna pertama. Sedangkan naql atau manqul yang termasuk bagian hakikat adalah naql yang menggunakan definisi secara istilah, bukan secara lughat.”

Pertanyaan :
Ada kemiripan istilah di saat sebuah lafadz memiliki beberapa pemahaman makna, yakni musytarak, naql, murtajal dan majaz bi an-naql. Apa perbedaan istilah-istilah ini?
Jawab :
Perbedaannya adalah sebagai berikut;
1.        Musytarak : lafadz yang memiliki beberapa pemahaman makna dan antara pemahaman makna tersebut tidak diselingi proses pemindahan (naql)
2.        Murtajal : antara pemahaman makna tersebut diselingi proses pemindahan (naql), namun antara makna awal dan makna yang digunakan tidak ada keserasian.
3.        Manqul (naql) : seperti murtajal di atas, namun ada keserasian makna dan kemudian makna awal ditinggalkan (dilupakan). Manqul model ini termasuk kategori hakikat.
4.        Majaz bi an-naql : seperti manqul di atas, namun makna awal masih terpakai. Ini termasuk manqul (naql) kategori majaz.
Referensi :
قَالُوا اَللَّفْظُ إِذَا تَعَدَّدَ مَفْهُوْمُهُ فَاِنْ لَمْ يَتَخَلَّلْ بَيْنَهُمَا نَقْلٌ فَهُوَ الْمُشْتَرَكُ وَإِنْ تَخَلَّلَ فَاِنْ لَمْ يَكُنْ النَّقْلُ لِمُنَاسَبَةٍ فَمُرْتَجَلٌ وَاِنْ كَانَ لِمُنَاسَبَةِ فَاِنْ هُجِرَ الْمَعْنَى الْأَوَّلُ فَهُوَ الْمَنْقُوْلُ الَّذِى هُوَ مِنْ أَقْسَامِ الْحَقِيْقَةِ وَإِلاَّ فَهُوَ الْمَنْقُوْلُ الَّذِى هُوَ مِنْ أَقْسَامِ الْمَجَازِ وَيُسَمَّى مَجَازًا بِالنَّقْلِ (النَّفَحَاتُ صـ45)
“Ulama mengatakan, ketika suatu lafadz memiliki beberapa pemahaman makna, maka apabila antara dua pemahaman makna tidak diselingi proses pemindahan (naql), maka disebut musytarak. Dan jika diselingi proses pemindahan (naql), maka apabila pemindahan tersebut bukan karena keserasian makna, maka dinamakan murtajal. Apabila karena keserasian makna, kemudian makna awal ditinggalkan (dilupakan), maka dinamakan manqul (naql) yang termasuk kategori hakikat. Dan jika sebaliknya (makna awal masih terpakai), maka dinamakan manqul (naql) yang termasuk kategori majaz dan dinamakan majaz dengan naql”.   










Tidak ada komentar:

Jual beli online dan menyusui anak orang kafir

*SOAL* Bahsulmasail# 1_ *bagaimana hukum orang jual beli online, kalo di bolehkan bagaimana cara akadnya apakah sah hanya melewati telpon sa...