Rabu, 20 April 2016

al-wajib




(فالوَاجِبُ) مِنْ حَيْثُ وَصْفُه بِالْوُجُوْبِ (مَا يُثَابُ عَلَى فِعْلِهِ وَيُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِهِ) وَيَكْفِيْ فِيْ صِدْقِ الْعِقَابِ وُجُوْدُهُ لِوَاحِدٍ مِنَ الْعُصَاةِ، مَعَ الْعَفْوِ عَنْ غَيْرِهِ وَيَجُوْزُ أَنْ يُرِيْدَ وَيَتَرَتَّبُ الْعِقَابُ عَلَى تَرْكِهِ كَمَا عَبَّرَ بِهِ غَيْرُهُ فَلَا يُنَافِيْ الْعَفْوَ

Wajib, dilihat dari sisi perkara itu dinamakan wajib, ialah sesuatu yang berpahala jika dikerjakan dan disiksa jika ditinggalkan. Pengertian menyiksa dianggap cukup bila dilaksanakan pada satu orang dari beberapa pelaku maksiat, serta mengampuni yang lain. Dan pengarang bisa jadi menghendaki maksudnya adalah ‘meninggalkannya akan berakibat siksaan’, seperti ungkapan ulama lain, sehingga tidak menutup peluang adanya pengampunan.
Penjelasan :
Ta’rif (definisi) dalam pembahasan ushul fiqh sama dengan pembahasan yang ada dalam ilmu mantiq. Macam ta’rif ada tiga.
1.    Ta’rif hadd
2.    Ta’rif rasm
3.    Ta’rif lafdli
Ta’rif hadd ialah suatu ta’rif (definisi) yang menggunakan rangkai lafadz kulli jinsi dan fashl. Contoh, الْإِنْسَانُ حَيَوَانٌ نَاطِقٌ (Manusia adalah hewan yang bisa berfikir). Definisi ini menggunakan lafadz kulli jinsi (binatang) dan fashl (bisa berfikir).
Ta’rif rasm[1][6] ialah ta’rif yang menggunakan kulli jinsi dan sifat khusus. Contoh, manusia adalah binatang yang dapat tertawa. Lebih jelasnya lihat dalam buku mantiq dalam pembahasan definisi rasm.
Definisi hukum wajib yang disampaikan pengarang (musannif) di atas memandang dari sisi akibat hukum. Artinya, definisi tersebut berbentuk rasm, karena menggunakan akibat hukum, sebagaimana keterangan di atas.

Pertanyaan :
Dalam kitab-kitab ushul lain ditemukan definisi, bahwa hukum wajib ialah sesuatu yang dituntut untuk dikerjakan dengan tuntutan bersifat mengharuskan. Termasuk ta’rif apakah ini?
Jawab :
Termasuk ta’rif hadd (bukan rasm)
Referensi :
ثُمَّ إِنَّ هَذِهِ التَّعَارِيْفَ الَّتِيْ ذَكَرَهَا الْمُصَنِّفُ تَعَرِيْفَاتُ بِالْأَثَرِ لِأَنَّ الثَّوَابَ وَالْعِقَابَ مِنْ آثَارِ الْحُكْمِ وَهُوَ تَعْرِيْفٌ بِالرَّسْمِ وَقَدْ يُعَرَّفُ بِالْحَدِّ بِأَنْ يُقَالَ فِيْ الْوَاجِبِ هُوَ مَا يُطْلَبُ فِعْلُهُ طَلَبًا جَازِمًا (اَلنَّفَحَاتُ صـ 7)
“Selanjutnya, definisi-definisi yang disebutkan pengarang adalah definisi dengan akibat hukum, karena pahala dan siksaan termasuk akibat sebuah hukum, dan ini disebut ta’rif (definisi) rasm. Terkadang hukum wajib juga didefinisikan dengan ta’rif hadd, seperti diucapkan, wajib ialah sesuatu yang dituntut untuk dikerjakan dengan tuntutan yang mantap (mengharuskan)” [2][7].
(وَالمَندُوبُ) مِنْ حَيْثُ وَصْفُهُ بِالنَّدْبِ (مَا يُثَابُ عَلَى فِعلِهِ وَلَا يُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِهِ)

Mandub (sunnah), dilihat dari sisi perkara itu dinamakan mandub yaitu sesuatu yang dapat pahala jika dikerjakan dan tidak mendapat siksa bila ditinggalkan.

Penjelasan :
Istilah mandub, mushtahab, tathawwu’, dan sunnah merupakan kata-kata muradif (tiga lafadz satu pengertian), yakni,
مَا يُثَابُ عَلَى فِعلِهِ وَلَا يُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِهِ
Sesuatu yang dapat pahala jika dikerjakan dan tidak mendapat siksa jika ditinggalkan.

Sedangkan menurut Imam al-Qadhi Husein dan ulama lain, istilah mushtahab, tathawwu’, sunnah tidak sama pengertiannya (bukan muradif). Definisi masing-masing adalah sebagai berikut.
Sunnah adalah perbuatan yang dilakukan Nabi saw secara terus menerus. Mustahab, adalah yang dilakukan Nabi saw satu atau dua kali dan tidak secara terus menerus. Sedangkan tathawwu’ ialah yang sama sekali belum pernah dilakukan oleh Nabi saw. Hanya saja perbuatan tersebut merupakan kebiasaan (wirid) yang dibuat oleh manusia.

Pertanyaan :
Disebutkan di atas bahwa sunnah boleh ditinggalkan (tidak disiksa). Apakah boleh memutus di tengah-tengah setelah dikerjakan?
Jawab :
Menurut Imam as-Syafi’i ra diperbolehkan, sedangkan menurut Imam Malik ra dan Abi Hanifah, tidak diperbolehkan dan wajib disempurnakan.
Referensi :
ثُمَّ إِنَّهُ لَايَجِبُ اِتْمَامُ الْمَنْدُوْبِ بِالشُّرُوْعِ فِيْهِ عِنْدَ الشَّافِعِى رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ لِأَنَّهُ جَائِزُ التَّرْكِ خِلَافًا لِأَبِيْ حَنِيْفَةَ وَمَالِكِ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا فِىْ قَوْلِهِمَا بِوُجُوْبِ اِتْمَامِهِ مُسْتَدِلَّيْنِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى (وَلَا تُبْطِلُوْا أَعْمَالَكُمْ) فَيَجِبُ عِنْدَهُمَا بِتَرْكِ اِتْمَامِ الْمَنْدُوْبِ قَضَاءُهُ وَأُجِيْبَ عَنِ الْآيَةَ بِأَنَّهَا مُخَصَّصَةٌ بِمَا صَحَّحَهُ الْحَاكِمُ مِنْ رِوَايَةِ التِّرْمِذِى (الصَّائِمُ الْمُتَطَوِّعُ أَمِيْرُ نَفْسِهِ إِنْ شَاءَ صَامَ وَإِنْ شَاءَ أَفْطَرَ) وَيُقَاسُ عَلَى الصَّوْمِ غَيْرُهُ مِنَ الْمَنْدُوْبَاتِ وَإِنَّمَا وَجَبَ اِتْمَامُ النُّسُكِ الْمَنْدُوْبِ مِنْ حَجٍّ أَوْ عُمْرَةٍ لِأَنَّ نَفْلَهُ كَفَرْضِهِ فِىْ كَثِيْرٍ مِنَ الْأَحْكَامِ كَالنِّيَةِ فَإِنَّهَا فِىْ كُلٍّ مِنْ فَرْضِهِ وَنَفْلِهِ قَصْدُ الدُّخُوْلِ فِىْ الْحَجِّ وَالْعُمْرِةِ وكَالْكَفَارَةِ فَإِنَّهَا تَجِبُ فِىْ كُلٍّ مِنْهُمَا بِالْجِمَاعِ الْمُفْسِدِ لَهُ وَكَعَدَمِ الْخُرُوْجِ بِالْفَسَادِ فَإِنَّ كُلًّا مِنْهُمَا يَجِبُ الْمُضِيِّ فِىْ فَاسَدِهِ وَلَيْسَ نَفْلُ غَيْرِهِمَا وَفَرْضُهُ سَوَاءٌ فِيْمَا ذُكِرَ كَمَا هُوَ مَعْلُوْمٌ  (لَطَائِفُ الإِشاَرَاتِ صـ 11)
“Kemudian sesungguhnya tidak wajib hukumnya menyempurnakan ritual ibadah sunnah setelah mulai dikerjakan menurut Imam Syafi’i RA. Karena ibadah sunnah itu hukumnya boleh untuk ditinggalkan. Lain halnya dengan Imam Hanafi RA dan Imam Malik RA, beliau berdua berpendapat bahwasanya wajib hukumnya menyempurnakan ritual ibadah sunnah tersebut, dengan berlandaskan pada ayat, “Dan janganlah kamu sekalian membatalkan amal kamu sekalian”. Maka menurut beliau berdua, tidak disempurnakannya sunnah, mewajibkan qadha’. Dalil ayat di atas ditanggapi bahwasanya ayat tersebut telah ditakhsish dengan hadits yang dishahihkan oleh Imam Hakim dari riwayat Imam At Tirmidzi : “orang yang berpuasa sunnah itu berhak memerintah dirinya, jika dia berkehendak maka dia berpuasa dan jika dia berkehendak dia boleh membatalkannya (berbuka)”. Ibadah sunnah lain diqiyaskan dengan puasa ini. Sedangkan mengenai wajibnya menyempurnakan ritual ibadah haji dan umrah sunnah, hal ini disebabkan karena sunnah dan fardhunya ibadah tersebut memiliki banyak kesamaan hukum. Semisal dalam niat, karena niat baik dalam haji dan umrah wajib, atau haji dan umrah sunnah adalah sama, yaitu menyengaja untuk masuk dalam ritual haji atau umrah. Juga dalam kafarat, karena kafarot diwajibkan baik dalam wajib maupun sunnah, akibat melakukan persetubuhan yang merusak ibadah tersebut. Serta dalam hukum tidak bisa keluar (masih berstatus ihram) karena rusaknya ibadah tersebut. Karena baik wajib atau sunnah, haji dan umrah yang rusak tetap diwajibkan untuk melanjutkannya sampai selesai. Dan tidak ada ibadah-ibadah sunnah selain keduanya memiliki kesamaan dengan ibadah fardhunya, dalam permasalahan yang telah disebutkan, sebagaimana sudah dimaklumi”.

(وَالْمُبَاحُ) مِنْ حَيْثُ وَصْفُهُ بِالْإِبَاحَةِ (مَا لا يُثَابُ عَلَى فِعْلِهِ) وَ تَرْكِهِ (وَلَا يُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِهِ) وَ فِعْلِهِ أَيْ ماَ لَا يَتَعَلَّقُ بِكُلٍّ مِنْ فِعْلِهِ وَتَرْكِهِ ثَوَابٌ وَلَا عِقَابٌ

Mubah dipandang sebagai perkara itu dinamakan mubah yaitu sesuatu yang tidak mendapat pahala ataupun siksa jika dikerjakan atau ditinggalkan. Artinya, pahala ataupun siksa tidak ada keterkaitan dengan melakukan atau meninggalkannya.
Penjelasan :
Mubah secara bahasa artinya dilapangkan atau diluaskan. Sedangkan secara istilah ialah,
مَا لا يُثَابُ عَلَى فِعْلِهِ وَلَا يُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِهِ
Sesuatu yang melakukan dan meninggalkannya tidak mendapat pahala dan siksa

Mubah juga dapat disebut jaiz atau halal[3][8], contoh makan dan minum.

Pertanyaan :
Dari definisi di atas, apakah tidak bertentangan dengan perkataan bahwa seorang yang makan dengan niat mengusahakan kekuatan beribadah, akan mendapatkan pahala?
Jawab :
Tidak bertentangan, karena ta’rif mubah (sesuatu yang melakukan dan meninggalkannya tidak mendapat pahala dan siksa) di atas adalah dari sisi pandang sesuatu itu disifati mubah. Sedangkan perkataan ‘seorang yang makan dengan niat mengusahakan kekuatan beribadah, akan mendapatkan pahala’, adalah memandang dari sisi yang berbeda, yakni dari aspek tha’at (ketaatan).
Referensi :
(مِنْ حَيْثُ وَصْفُهُ) دَفَعَ بِهَذَا أَنَّ الْمُبَاحَ قَدْ يُثَابُ عَلَى فِعْلِهِ اِذَا نَوَى بِهِ طَاعَة كمَا قَالَ اِبْنُ رُسْلاَنْ:
لَكِنْ اِذَا نَوَى بِأَكْلِهِ القُوَى  #  لِطَاعَةِ اللهِ لَهُ مَا قَدْ نَوَى
فَأَجَابَ بِأَنَّهُ لَا يُثَابُ عَلَى فِعْلِهِ مِنْ حَيْثُ وَصْفُهُ بِالْإِبَاحَةِ وَلَا يُنَافِي أَنَّهُ يُثَابُ مِنْ حَيْثُ الطَّاعَةِ (اَلنَّفَحَاتُ صـ 19)
(dipandang dari sesuatu itu disifati mubah), lafadz ini sebagai sangkalan atas ucapan yang mengatakan, “Sesuatu yang mubah terkadang mendapat pahala jika dilakukan dengan niat tha’at”, sebagaimana ucapan Ibnu Ruslan (dalam syair):
Akan tetapi ketika makan disertai niat agar kuat
Untuk tha’at pada Allah swt, maka baginya (pahala) dari niat itu”.
Maka pensyarah menjawab, bahwa mubah itu tidak ada kaitannya dengan pahala memandang dari sisi sesuatu itu dihukumi mubah. Tidak munutup kemungkinan melakukan hal yang mubah mendapat pahala karna dari sisi tha’at-nya”

(وَالْمَحْظُوْرُ) مِنْ حَيْثُ وَصْفِهِ بِالْحَظْرِ أَيْ الْحُرْمَةِ (مَا يُثَابُ عَلَى تَرْكِهِ) اِمْتِثَالًا (وَيُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ)
وَيَكْفِيْ فِيْ صِدْقِ الْعِقَابِ وُجُوْدُهُ لِوَاحِدٍ مِنَ الْعُصَّاةِ مَعَ الْعَفْوِ عَنْ غَيْرِهِ.
وَيَجُوْزُ أَنْ يُرِيْدَ وَيَتَرَتَّبَ الْعِقَابُ عَلَى فِعْلِهِ كَمَا عَبَّرَ بِهِ غَيْرُهُ فَلَا يُنَافِيْ الْعَفْوَ

Haram dilihat dari sisi sebagai perkara haram yaitu suatu perkara yang mendapat pahala jika kita tinggalkan karena niat mengikuti perintah Allah, dan mendapat siksa bila melakukannya.
Dan pengertian menyiksa dianggap cukup bila dilaksanakan pada satu orang dari beberapa orang yang maksiat, serta mengampuni yang lain. Dan pengarang bisa jadi menghendaki maksudnya adalah ‘melakukannya ditindaklanjuti dengan siksaan’, seperti ungkapan ulama lain, sehingga tidak menutup peluang adanya pengampunan.

Penjelasan :
Hukum haram didefinisikan sebagai berikut,
مَا يُثَابُ عَلَى تَرْكِهِ اِمْتِثَالًا وَيُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ
“Suatu perkara yang meninggalkannya akan mendapat pahala, dengan niat melaksanakan perintah Allah, dan melakukannya akan mendapat siksa”.
Contoh, perbuatan zina, mencuri dan lain sebagainya.

Pertanyaan :
Apa perbedaan antara haram dan makruh tahrim?
Jawab :
Hukum haram ditetapkan berdasarkan dalil qath’i (arah maknanya pasti), sedangkan makruh tahrim dengan dalil dhanni (mungkin diarahkan pada makna lain).
Referensi :
الْحَرَامُ مَا ثَبَتَ نَهْيُهُ بِدَلِيْلٍ قَطْعِيٍّ لَا يَحْتَمِلُ التَّأْوِيْلَ, وَالْمَكْرُوْهُ كَرَاهَةَ تَحْرِيْمٍ مَا ثَبَتَ نَهْيُهُ بِدَلِيْلٍ يَحْتَمِلُ التَّأْوِيْلَ (اَلنَّفَحَاتُ صـ 20)
“Haram ialah sesuatu yang dilarang berdasarkan dalil qath’i (pasti dilalahnya) yang tidak mungkin diarahkan pada makna lain. Makruh tahrim adalah setiap perkara yang dilarang berdasarkan sebuah dalil yang memungkinkan diarahkan pada makna lain”.

(قَوْلُهُ كَرَاهَةَ تَحْرِيمِ) أَىْ يَأْثِمُ فاعِلُها وَذَكَرَ بَعْضُهُمْ الفَرْقَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الحَرَامِ مَعَ اَنّ كُلاً يَقْتَضِى الإِثْمَ بِأَنَّ الأَوَلَ مَا ثَبَتَ بِدَلِيْلِ يَحْتَمِلُ التَأْوِيْلَ وَالثَّانِى مَا ثَبَتَ بِدَلِيْلِ قَطْعِىِ أَوْاِجْمَاعِ أَوْقِيَاسٍ أَوْلَوِىٍّ أَوْمُسَاوٍ (طَرِيْقَةُ الحُصُوْلِ صـ81)
“(Ucapan pengarang: makruh tahrim), yakni yang pelakunya berdosa. Sebagian ulama membedakan antara makruh tahrim dengan haram, dengan sisi kesamaan keduanya menetapkan dosa. Bahwa yang pertama (makruh tahrim) adalah yang tetap berdasarkan dalil yang mungkin diarahkan pada makna lain. Dan kedua (haram) ialah yang tetap berdasarkan dalil qath’i (pasti), ijma’, qiyas awlawiy, atau qiyas musawi”.

(وَالْمَكْرُوْهُ) مِنْ حَيْثُ وَصْفُهُ بِالْكَرَاهَةِ (مَا يُثَابُ عَلَى تَرْكِهِ) امْتِثَالًا (وَلَا يُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ)

Makruh dilihat dari sisi sebagai perkara yang makruh yaitu perkara yang apabila ditinggalkan disertai niat untuk menjalankan perintah Allah akan mendapat pahala dan apabila dilakukan tidak akan mendapat siksa.

Penjelasan :
Pengertian makruh;
مَا يُثَابُ عَلَى تَرْكِهِ امْتِثَالًا وَلَا يُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ
“Setiap perkara yang meninggalkannya dengan diniati karena Allah akan mendapat pahala, dan melakukannya tidak akan mendapat siksa”.

Pertanyaan :
Apakah ada perbedaan antara makruh tahrim dan makruh tanzih?
Jawab :
Ada, yakni melakukan makruh tanzih tidak mendapat siksaan, dan melakukan makruh tahrim mendapat siksaan.
Referensi :
وَالْفَرْقُ بَيْنَهَا وَبَيْنَ كَرَاهَةِ التَّنْزِيْهِ أَنَّ كَرَاهَةَ التَّنْزِيْهِ مَا لَا يُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ بِخِلَافِ كَرَاهَةِ التَّحْرِيْمِ فَإِنَّهُ يُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ (اَلنَّفَحَاتُ صـ 20)
“Perbedaan antara makruh tahrim dan makruh tanzih adalah bahwa melakukan makruh tanzih, tidak mendapat siksa, berbeda dengan makruh tahrim, maka melakukannya akan mendapat siksa”.

Pertanyaan :
Apakah ada perbedaan antara makruh dengan khilaful aula?
Jawab :
Menurut ulama ushul dan mutaqaddimin dari golongan fuqaha, keduanya sama. Menurut ulama mutaakhirin dari golongan fuqaha, keduanya beda.
Referensi :
(وَالْمَكْرُوْهُ) الخ اَلشَّامِلُ لِخِلاَفِ الْأَوْلَى وَهُوَ مَا كاَنَ بِنَهْيٍ غَيْرِ مَخْصُوْصٍ كَالنَّهْيِ عًنْ تَرْكِ الْمَنْدُوْبَاتِ الْمُسْتَفَادِ مِنْ أَوَامِرِهَا لِاَنَّ الْأَمْرَ بِالشَّيْءِ نَهْيٌ عَنْ ضِدِّهِ وَهُوَ اَصْلُ اِصْطِلاَحِ الْأُصُوْلِى وَاِنْ خَالَفَ فِيْهِ بَعْضُ مُتَأَخِّرِى الْفُقَهَاءِ وَمِنْهُمْ اَلْمُصَنِّفُ فَخَصُّوا الْأَوَّلَ بِالْمَكْرُوْهِ وَالثَّانِى بخِلاَفَ الْأَوْلَى (اَلنَّفَحَاتُ صـ 21)
“(Ucapan pengarang : makruh),  mencangkup khilaful aula, yakni yang tidak menggunakan shighat larangan khusus (jelas), seperti larangan meninggalkan sunnah-sunnah yang diambil dari perintah-perintah sunnah. Karena perintah atas sesuatu adalah larangan untuk melakukan kebalikannya. Ini adalah asal istilah dari ahli ushul, meskipun tidak disepakati sebagian fuqaha mutaakhirin, termasuk pengarang. Mereka menentukan yang pertama (disertai shighat larangan khusus) dengan nama makruh, dan yang kedua (tanpa shighat larangan khusus) dengan nama khilaful aula”

وَتَقْسِيمُ خِلَافِ الْأَوْلَى زَادَهُ الْمُصَنِّفُ عَلَى الْأُصُولِيِّينَ أَخْذًا مِنْ مُتَأَخِّرِي الْفُقَهَاءِ حَيْثُ قَابَلُوا الْمَكْرُوهَ بِخِلَافِ الْأَوْلَى فِي مَسَائِلَ عَدِيدَةٍ وَفَرَّقُوا بَيْنَهُمَا وَمِنْهُمْ إمَامُ الْحَرَمَيْنِ فِي النِّهَايَةِ بِالنَّهْيِ الْمَقْصُودِ وَغَيْرِ الْمَقْصُودِ وَهُوَ الْمُسْتَفَادُ مِنْ الْأَمْرِ وَعَدَلَ الْمُصَنِّفُ إلَى الْمَخْصُوصِ وَغَيْرِ الْمَخْصُوصِ أَيْ الْعَامِّ نَظَرًا إلَى جَمِيعِ الْأَوَامِرِ النَّدْبِيَّةِ وَأَمَّا الْمُتَقَدِّمُونَ فَيُطْلِقُونَ الْمَكْرُوهَ عَلَى ذِي النَّهْيِ الْمَخْصُوصِ وَغَيْرِ الْمَخْصُوصِ وَقَدْ يَقُولُونَ فِي الْأَوَّلِ مَكْرُوهٌ كَرَاهَةً شَدِيدَةً كَمَا يُقَالُ فِي قِسْمِ الْمَنْدُوبِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ (جَمْعُ الجَوَامِعِ صـ10)
“Pembagian khilaful aula adalah tambahan pengarang dari istilah ulama ushul, mengutip dari fuqaha mutaakhirin, dimana mereka membandingkan makruh dan khilaful aula di beberapa masalah. Mereka, termasuk Imam Haramain dalam an-Nihayah membedakan keduanya dengan shighat larangan jelas dan yang tidak jelas, yakni yang diambil dari amr (perintah). Pengarang beralih dengan membahasakan shighat larangan khusus dan yang tidak khusus, yakni yang umum, memandang pada semua perintah-perintah sunnah. Sedangkan fuqaha mutaqaddimin memutlakkan makruh atas semua yang memiliki shighat larangan khusus dan yang tidak. Kadang mereka sebut yang pertama dengan makruh berat (syadidah), sebagaimana dalam sunnah ada sebutan sunnah muakkadah”. 

(وَالصَّحِيحُ) مِنْ حَيْثُ وَصْفُهُ بِالصِّحَةِ (مَا يَتَعلَّقُ بِهِ النُّفُوذُ وَيُعتَدُّ بِهِ) بِأَنِ اسْتَجْمَعَ مَا يُعْتَبَرُ فِيْهِ شَرْعاً، عَقْداً كَانَ أَوْ عِبَادَةً

Sah ditinjau dari sesuatu itu disifati sah yaitu perkara yang berkaitan dengan nufudz, dan i’tidad. Yakni di saat perkara tersebut telah melengkapi hal-hal yang dipertimbangkan syara’, baik berupa akad atau ibadah.

Penjelasan :
Hukum shahih ialah,
مَا يَتَعلَّقُ بِهِ النُّفُوذُ وَيُعتَدُّ بِهِ
Sesuatu yang telah berhubungan dengan nufudz, dan i’tidad

Nufudz adalah tercapainya suatu tujuan, seperti jual beli, tujuannya ialah supaya pembeli dapat memiliki barang yang dibeli dan penjual dapat hak milik atas uang yang diterima. Sedangkan i’tidad ialah telah melengkapinya seseorang atas perkara yang telah ditetapkan syara seperti syarat dan rukun.
Dari pengertian di atas, ketika ibadah dinyatakan sah, berarti syarat dan rukun di dalamnya telah terpenuhi (dalam ibadah tidak ada istilah nufudz). Dan ketika jual beli dinyatakan sah, maka artinya jual beli tersebut telah berkaitan dengan dua hal. Pertama, nufudz, dengan pengertian pembeli boleh menggunakan barang yang dibeli, begitu juga pihak penjual mendapat hak milik atas uang yang diterima. Kedua, i’tidad, dengan pengertian si pembeli dan penjual telah melaksanakan rukun dan syarat yang terdapat dalam jual beli.
Catatan : secara istilah, akad dapat disifati dengan nufudz dan i’tidad. Sedangkan ibadah hanya disifati dengan i’tidad saja.

Pertanyaan :
Apakah standar atau tolak ukur sah tidaknya ibadah atau akad?
Jawab :
Dalam ibadah ada dua aspek, persangkaan orang mukallaf dan kenyataan sebenarnya. Sedangkan dalam akad hanya kenyataan sebenarnya.
Referensi :
(قَوْلُهُ بِأَنْ لَمْ يَسْتَجْمِعْ)الخ......ثُمَّ العِبْرَةُ فِي اِسْتِجْمَاعِهِ الشُّرُوْطِ اَوْ عَدَمِ اِسْتِجْمَاعِهِ فِي الْعِبَادَاتِ بِمَا فِي ظَنِّ المُكلَفِ وَنَفْسِ الْأَمْرِ فَلِذَا لَوْ صَلَّى عَلَى اِعْتِقَاد أَنَّهُ مُطَهِّرٌ فَبَانَ بَعْدَ الصَّلَاةِ أَنَّهُ مُحْدِثٌ وَجَبَ عَلَيْهِ الِاعَادةُ وَيَكُوْنُ اَدَاءً اِنْ بَقِيَ الوَقْتُ وَقَضَاءً اِنْ خَرَجَ الوَقْتُ وَبِمَا فِي الوَاقِعِ فِي العُقُوْدِ فَلِذَا لَوْ بَاعَ مَالَ مُوَرَّثَهُ مُعْتَقِدًا حَيَاتَهُ فَبَانَ مَوْتَهُ صَحَّ البَيْعُ (اَلنَّفَحَاتُ صـ 22)
“(Ucapan pensyarah: tidak melengkapi)…..tolak ukur melengkapi syarat atau belum dalam permasalahan ibadah yaitu sesuai dengan persangkaan orang mukallaf dan juga kenyataan sebenarnya. Dengan demikian seumpama ada seseorang melakukan shalat dengan berkeyakinan dirinya telah suci, namun setelah shalat ternyata nyata-nyata ia berhadats, maka ia wajib mengulangi shalatnya, dan dihukumi ada’ jika waktu shalat masih tersisa, dan dihukumi qadha’ jika waktu sudah habis. Dan dalam permasalahan akad, yang menjadi tolak ukur yaitu kenyataan sebenarnya. Dengan demikian seumpama ada seseorang yang menjual harta orang yang akan diwarisinya (semisal ayahnya) dengan berkeyakinan bahwa ayahnya masih hidup, namun kenyataannya ternyata ayahnya sudah meninggal, maka penjualannya dianggap sah.

(وَالبَاطِلُ) مِنْ حَيْثُ وَصْفُهُ بِالْبُطْلَانِ (مَا لَا يَتعَلَّقُ بِهِ النُّفُوذُ وَلَا يُعتَدُّ بِهِ) بِأَنْ لَمْ يَسْتَجْمِعْ مَا يُعْتَبَرُ فِيْهِ شَرْعاً، عَقْداً كَانَ أَوْ عِبَادَةً.
وَالْعَقْدُ يَتَّصِفُ بِالنُّفُوْذِ وَالْإِعْتِدَادِ، وَالْعِبَادَةُُ تَتَّصِفُ بِالْإِعْتِدَادِ فَقَطْ اصْطِلاَاحًا.

Bathil ditinjau dari sesuatu itu disifati batal yaitu perkara yang tidak berkaitan dengan nufudz dan i’tidad. Yakni di saat perkara tersebut belum melengkapi hal-hal yang dipertimbangkan syara’, baik berupa akad atau ibadah.
Akad disifati dengan nufudz dan i’tidad, sedangkan ibadah disifati hanya disifati dengan i’tidad saja secara istilah.

Penjelasan :
Batal merupakan lawan kata dari shahih (sah) dengan demikian batal ialah,
مَا لَا يَتعَلَّقُ بِهِ النُّفُوذُ وَلَا يُعتَدُّ بِهِ
Sesuatu yang belum berhubungan dengan nufudz dan i’tidad

Dari pengertian bathil ini, ketika sebuah ibadah dinyatakan batal, maka artinya syarat dan rukun didalamnya belum terpenuhi (dalam ibadah tidak ada istilah nufudz). Dan ketika sebuah akad, seperti jual beli dinyatakan batal, maka artinya jual beli tersebut belum berkaitan dengan dua hal. Pertama, nufud, dengan pengertian pembeli tidak boleh menggunakan barang yang dibeli, begitu juga pihak penjual belum mendapat hak milik atas uang yang diterima. Kedua, i’tidad, dengan pengertian si pembeli dan penjual belum melaksanakan rukun dan syarat dalam jual beli.

Pertanyaan :
Apakah sama batal dengan fasad?
Jawab :
Menurut kalangan Syafi’iyyah sama, sedangkan menurut kalangan Hanafiyah batal dengan fasad tidak sama.
Referensi :
(قَوْلُهُ وَالبَاطِلُ )الخ.....وَفي التَّعْرِيْفِ بِالبَاطِلِ إِشَارَةٌ إِلَى اِتِّحَادِهِمَا إِلاَّ فِي صُوَرٍ مِنْهاَ الحَجُّ فَإِنَّهُ يَبْطُلُ بِالرِّدَةِ وَيَخْرُجُ مِنْهُ وَيَفْسُدُ بِالوَطْءِ وَلاَ يَخْرُجُ مِنْهُ وَيَلْزَمُهُ إِتْماَمُهُ خِلَافًا لِأَبِي حَنِيفَةَ فِي قَوْلِهِ بِتخَالُفِهِمَا وَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا بِأَنْ مَا كَانَ النَّهْيُ رَاجِعًا لِأَصْلِهِ فَهُوَ البُطْلَانٌ كَمَا فِي الصَّلَاةِ بِدُونِ بَعْضِ الشُّرُوطِ أَوْ الْأَرْكَانِ أَوْ لِوَصْفِهِ فَهِيَ الْفَسَادُ كَمَا فِي صَوْمِ يَوْمِ النَّحْرِ لِلْإِعْرَاضِ بِصَوْمِهِ عَنْ ضِيَافَةِ اللَّهِ لِلنَّاسِ بِلُحُومِ الْأَضَاحِيّ الَّتِي شَرَعَهَا فِيهِ (اَلنَّفَحَاتُ صـ22)
“(Ucapan pengarang : bathil)….dalam ta’rif menggunakan lafad batal mengisyaratkan semaknanya batal dan fasid….berbeda dengan Imam Abi Hanifah dalam statemennya, bahwa keduanya berbeda. Beliau membedakan antara keduanya, bahwa hukum yang larangan di dalamnya mengarah pada asalnya (syarat atau rukun), maka dinamakan batal. Seperti melakukan shalat tanpa memenuhi sebagian rukun atau syaratnya. Atau mengarah pada sifatnya ibadah, maka dinamakan fasad, seperti puasa pada hari raya kurban, karena berpaling dari suguhan Allah bagi manusia berupa daging kurban yang telah di syariatkan di hari itu”.
Pertanyaan :
Apakah khilaf di atas (bahwa batal apakah sama dengan fasad) tergolong lafdhi atau ma’nawi?
Jawab :
Tergolong khilaf lafdhi.
Referensi :
ثُم الْخِلَافُ بَيْنَهُمَا لَفْظِيٌّ لِأَنَّ حَاصِلَهُ أَنَّ مُخَالَفَةَ ذِي الْوَجْهَيْنِ الشَّرْع بِالنَّهْيِ عَنْهُ لِأَصْلِهِ كَمَا تُسَمَّى بُطْلَانًا هَلْ تُسَمَّى فَسَادًا أَوْ لِوَصْفِهِ كَمَا تُسَمَّى فَسَادًا هَلْ تُسَمَّى بُطْلَانًا فَعِنْد أبِي حَنِيفَةَ لاَ تُسَمَّى وَعِنْدَنَا نَعَمْ (اَلنَّفَحَاتُ صـ22)
Kemudian perbedaan antara Syafiiyah dengan Hanafiyah hanyalah seputar khilaf lafdhi. Karena secara kesimpulan, tidak sesuainya dua perkara yang memiliki dua wajah terhadap syara(devinisi lain dari batal) dengan sebuah larangan yang mengarah pada asal (syarat dan rukun) selain dinamakan batal, apa juga bisa dinamakan fasad? Atau adanya larangan mengarah pada sifatnya, selain dinamakan fasad, apa juga dapat disebut batal?. Menurut Imam Abi Hanifah tidak bisa, menurut kita (Syafiiyah) bisa”.

Pertanyaan :
Mengapa definisi sah dan batal dalam Waraqat tidak sama dengan kebanyakan kitab ushul?. Seperti dalam Jam’ul Jawami dam Lubbul Ushul definisi sah ialah,
وَالصِّحَّةُ مُوَافَقَةُ الْفِعْلِ ذِي الْوَجْهَيْنِ وُقُوعًا الشَّرْعَ
“Sah ialah kesesuaian perbuatan yang adanya memiliki dua wajah dan terjadi dengan syari’at”

Definisi batal ialah,
وَيُقَابِلُهَا أَيْ الصِّحَّةَ الْبُطْلَان فَهُوَ مُخَالَفَةُ الْفِعْلِ ذِي الْوَجْهَيْنِ وُقُوعًا الشَّرْع
“Kebalikan dari sah adalah batal, yakni tidak sesuainya perbuatan yang adanya memiliki dua wajah dengan syari’at”.
Jawab :
Karena definisi yang terdapat di Al-Waraqat termasuk ta’rif rasm, sedangkan ta’rif yang terdapat kebanyakan kitab ushul, seperti dalam Jam’ul Jawami’ dan Lubbul Ushul di atas termasuk ta’rif hadd.
Referensi :
(مِنْ حَيْثُ وَصْفُهُ بِالوُجُوْبِ) ثُمَّ إِنَّ هَذِهِ التَّعَارِيْفَ الَّتِيْ ذَكَرَهَا الْمُصَنِّفُ تَعَرِيْفَاتُ بِالْأَثَرِ الخ....وَهُوَ تَعْرِيْفٌ بِالرَّسْمِ وَقَدْ يُعَرَّفُ بِالْحَدِّ....بِأَنْ يُقَالَ الصَّحِيحُ مَا وَافَقَ الشَّرْعَ مِمَّا يَقَعُ عَلَى وَجْهَيْنِ وَاْلبَاطِلُ مَا خَاَلفَ الشَّرْعَ مِمَّا يَقَعُ عَلَى وَجْهَيْنِ (اَلنَّفَحَاتُ صـ 18)
“(Ucapan pensyarah: ditinjau dari sesuatu itu disifati wajib) kemudian ta’rif-ta’rif ini yang telah disebutkan pengarang adalah ta’rif rasm….dan kadang juga dita’rifi dengan hadd…dengan dikatakan sah ialah suatu perbuatan yang sesuai dengan syari’at yang adanya perbuatan tersebut memiliki dua wajah. Batal ialah suatu perbuatan yang tidak sesuai dengan syara’ yang adanya perbuatan tersebut memiliki dua wajah”.

Catatan
Mulai dari pengertian wajib, sunnah, mubah, haram, makruh, sah dan batal yang terdapat dalam Al-Waraqat semuanya menggunakan ta’rif rasm. Untuk lebih jelasnya, pengertian ta’rif hadd atau rasm dapat dilihat dalam kitab ilmu mantiq.






Tidak ada komentar:

Jual beli online dan menyusui anak orang kafir

*SOAL* Bahsulmasail# 1_ *bagaimana hukum orang jual beli online, kalo di bolehkan bagaimana cara akadnya apakah sah hanya melewati telpon sa...